kubur_2

Ziarah Ke Makam Wali dan Orang Shalih (Berdoa Kepada Selain ALLAH)

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam begitu menjaga aspek tauhid, sehingga Beliau sangat mewanti-wanti dan mengancam setiap orang yang membuka pintu kesyirikan. Beliau benar-benar mengimplementasikan kewajiban ini. Beliau menutup seluruh celah menuju pintu kesyirikan. Contoh celah kesyirikan adalah mendirikan masjid di atas makam.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa ia mengatakan, “Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kondisi sakit menjelang wafat, beliau bersabda :

‘Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan makam para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).’ Aisyah mengatakan, ‘Seandainya bukan lantaran itu, niscaya makam beliau dibuatkan bangunan yang menonjol. Hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai masjid.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Tampaknya beliau  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyadari bahwa beliau hendak pergi untuk selama-lamanya setelah sakit itu, hingga beliau khawatir makam beliau akan diagungkan seperti yang dilakukan seperti yang dilakukan oleh umat sebelumnya. Laknat bagi kaum Yahudi dan Nasrani merupakan indikasi kecaman terhadap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka. “

Dengan demikian, dapat diketahui bahwasannya antara masjid dan makan tidak akan terhimpun dalam syariat Allah Ta’ala. Akan tetapi, kita telah melanggar perintah ini dan kita memasukkan makam ke dalam masjid, atau kita membangun masjid di atas makam. Bahkan, pelanggaran ini semakin berkembang dengan adanya sebagian kalangan di antara kita yang bernazar kepada makam dan berdoa kepada orang yang sudah dikuburkan, bukan kepada Allah, serta sangat semangat dalam mendatangi makam-makam.

Demikianlah yang terjadi. Padahal Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari Abu Sa’di Al-Khudri  Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa ia mengatakan : Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Tidak ada ziarah yang ditekankan kecuali ke tiga masjid, yakni Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan masjidku.”

Dengan demikian, dilarang menekankan ziarah ke makam orang-orang shalih dan lokasi-lokasi yang dianggap memiliki keutamaan untuk meminta berkah, serta shalat di tempat itu. Syaikhul Islam mengatakan di dalam buku Az-Ziyarah halaman 47, “Doa di makam tidak lebih utama daripada doa di masjid dan tempat lainnya. Tidak ada seorangpun dari generasi terdahulu maupun para imam yang mengatakan bahwa dianjurkan mendatangi makam untuk berdoa disana, baik itu makam para nabi maupun makam lainnya.”

Lima hari menjelang wafat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan makam sebagai masjid. Ketahuilah, jangan sampai kalian menjadikan makam sebagai majid, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan itu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Jika beliau melarang menjadikan makam sebagai masjid dan memanfaatkannya untuk keperluan tertentu, dapat diketahui bahwa beliau tidak menetapkan makam sebagai tempat untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah engkau menyembah sesuatu yang tidak member manfaat dan tidak (pula) member bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zhalim.” (QS. Yunus : 106). Juga firmannya, “Bukankah DIa (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah bersama Allah ada juga Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali yang kalian ingat.” (QS. An-Naml : 62)

Meskipun demikian, Anda dapat menjumpai kalangan yang mendatangi makam para wali karena mereka meyakini bahwa para wali itu dapat memenuhi keperluan dan member jalan keluar dari kesulitan. Jika mereka ditimpa musibah atau malapetaka, mereka memohon pertolongan kepada Nabi atau wali. Di antara mereka ada yang mengucapkan, “Wahai Hussain, Wahai Badawi, Wahai Jailani, Wahai Syadzili, atau Wahai Rifa’i.” Padahal, Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) yang kalian seru selain Allah adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kalian.” (QS. Al-A’raf : 194)

Di antara penyembah makam ada yang mengelilingi makam, lalu menyentuh dan mengusap-usap tiang-tiangnya. Mereka mencium pintu gerbangnya dan melumuri wajah mereka dengan tanahnya, serta bersujud kepadanya saat melihatnya. Mereka berhenti di depannya dengan khusyuk, merendahkan diri, dan tunduk seraya memohonkan berbagai permintaan dan keperluan mereka. Mereka meminta kesembuhan dari sakit, mendapatkan anak, atau dimudahkan dalam mencari rezeki. Terkadang, ada yang menyeru penghuni makam dan mengatakan, “Wahai Tuanku, aku datang kepadamu dari Negeri yang jauh. Karena itu, jangan engkau kecewakan aku.” Ini semua dilarang menurut syariat dan tidak boleh dilakukan dalam agama Allah. Di manakah kedudukan mereka menurut firman Allah Ta’ala berikut ini, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat, dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (Al-Ahqaf : 5)

Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya, bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa mati dalam keadaan berdoa kepada sekutu selain Allah, maka dia masuk neraka.”

Bahkan, ada orang yang meyakini bahwa para wali dapat mengatur alam. Mereka dapat menimpakan bahaya dan memberikan manfaat. Ini merupakan syirik terhadap rububiyah Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu,maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (QS. Yunus : 107)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan, “Perkara-perkara yang diada-adakan di dalam makam ada beberapa tingkatan. Tingkatan pertama, adalah tingkatan yang paling jauh dari syariat. Yakni meminta kepada orang yang meninggal agar kebutuhannya dipenuhi dan memohon pertolongan kepadanya. Ini dilakukan oleh banyak kalangan dan mereka termasuk dalam kategori penyembah berhala. Karena itu, syaithan kadang menampakkan diri kepada para penyembah berhala dalam wujud mayit atau orang yang tidak ada di tempat, sebagaimana dia menampakkan diri kepada mereka. Ini terjadi pada orang-orang kafir dari kaum musyrikin dan ahli kitab. Di antara mereka ada yang memohon kepada orang yang diagungkannya, lantas setan menampakkan diri kepadanya dan sesekali berbicara kepada mereka mengenai beberapa hal yang tidak Nampak. Demikian pula dalam tingkatan ini termasuk tindakan sujud, menyentuh, dan mencium makam.

Tingkatan kedua, memohon kepada Allah Azza wa Jalla dengan perantara orang shalih yang telah meninggal. Inilah yang dilakukan oleh banyak orang hari ini. Perbuatan ini adalah bid’ah menurut kesepakatan kaum muslimin. Tingkatan ketiga, meminta pertolongan kepada orang shalih yang telah meninggal itu. Tingkatan keempat, meyakini bahwa berdoa di makam orang shalih mustajab, karena lebih utama daripada berdoa di masjid. Karena itu, dia pun mendatangi dan menunaikan shalat di makam untuk memohon agar berbagai keperluannya dapat terpenuhi. Ini juga termasuk kemunkaran yang diadakan, menurut kesepakatan kaum muslimin. Ini dilarang. Sepengetahuan saya, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini di antara para Ulama Islam terkemuka. Meskipun zaman sekarang banyak orang melakukan itu. Tidak ada seorangpun dari generasi umat Islam terdahulu pada masa sahabat, tabi’in, maupun generasi setelah mereka yang beri’tikaf di makam untuk memohon kepada para penghuninya dan meminta pertolongan kepadanya. Tidak ada di antara mereka yang memohon agar berbagai keperluannya dipenuhi oleh para penghuni makam yang sudah mati itu.”

Syaikhul Islam juga berkata, “Di antara syirik yang terbesar adalah seseorang memohon pertolongan kepada mayyit atau orang yang sudah tiada dengan mengucapkan, ‘Wahai Tuanku…’ Dia terlihat seperti meminta kepada saudaranya agar menghilangkan kesusahan atau meminta kemudahan. Ini serupa dengan keadaan kum Nasrani yang mengagungkan Al-Masih, Maryam, para pemuka dan kalangan berpengetahuan di antara mereka. Sudah lazim diketahui, bahwa sebaik-baik makhluk yang paling mulia di antara mereka di hadapan Allah adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan, manusia yang paling mengetahui kapasitas beliau dan hak beliau adalah para sahabat beliau. Namun, para sahabat tidak melakukan sedikit pun dari itu semua, baik saat beliau tidak ada di tempat maupun setelah beliau wafat.”

Syaikhul Islam juga berkata, “Adapun jika seseorang ditimpa suatu musibah atau takut kepada sesuatu, lantas memohon pertolongan kepada syaikhnya agar meneguhkan hatinya dalam menghadapi kenyataan itu, maka ini termasuk syirik dan masuk dalam kategori agama kaum Nasrani. Sesungguhnya yang menganugerahkan rahmat dan menghilangkan bahaya hanyalah Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkan kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya” (QS. Yunus : 107)

Demikianlah petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menghadapi perkara ini. Maksudnya, saat ditimpa musibah, hendaknya seseorang memperbanyak dzikir dan istighfar kepada Allah, menunaikan shalat, berdoa, dan menundukkan diri kepada Allah Ta’ala. Rasulullah tidak memerintahkan agar mendatangi para Syaikh dan orang shalih seperti yang dilakukan oleh sejumlah kalangan yang minim pengetahuan. Allah Ta’ala berfirman, “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali yang kamu ingat.” (QS.An-Naml : 62)

About ZulkifliMA

Pria kelahiran Pariaman, 15 Nopember 1974 M yang akrab disapa dengan panggilan Ustadz Zul ini memiliki nama lengkap Zulkifli Muhammad Ali. Pemilik situs Zulkiflima.com ini menyelesaikan program pendidikan tingkat kuliahnya di Al-Azhar, Mesir, kemudian melanjutkan studynya di Tripoli, Libiya. Beliau aktif di pengkaderan generasi muda peka ilmu, guna mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Selengkapnya tengang beliau, bisa dibaca di sini.

Check Also

2-2

Bangga Menjadi Ummat Muhammad SAW #2

bangga-menjadi-umat-nabi

Bangga Menjadi Ummat Muhammad SAW #1

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *