Home / Slide / Tetap Tegak Meski Sendiri

Tetap Tegak Meski Sendiri

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Islam itu bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya,” (HR Muslim)

Allah menghendaki itu semua terjadi, bukan karena Allah tidak kuasa menjadikan Islam senantiasa berjaya, Allah Mahakuasa atas itu. Tapi Allah hendak menguji orang-orang beriman, sehingga terbukti siapa saja yang masih mampu bertahan di tengah badai fitnah yang menghadang.

Orang yang konsisten dengan ciri khas keislamannya menjadi aneh, begitupun yang tidak lebur dengan tradisi kebanyakan itu. Hanya ada dua pilihan di hadapan kita; Setia dengan ajaran Islam dengan segala resikonya berupa celaan dan keterasingan, ataukah larut dengan arus kebanyakan yang didominasi oleh hawa nafsu sebagai unsur terkuatnya.

Hati kecil kita menginginkan berada di atas jalan Islam, namun kadang jiwa kita merasa malu dan takut jika harus berbeda dengan kebanyakan orang. Kita kadang lupa, bahwa Allah pernah berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)

Padahal, karena keimanan yang menghujam dalam di palung sanubari, Bilal bin Rabah yang secara fisik adalah budak hitam dari Habasyah, kurus, dan berambut keriting digelari Umar bin Khattab dengan sayyidina (pemimpin kami). Umar berkata, “Abu Bakar; pemimpin kita telah memerdekakan pemimpin kita juga (yakni Bilal).” (HR Bukhari).

Bahkan, Rasulullah saw telah mendengar suara terompah Bilal di jannah, di saat dirinya masih menginjakkan kakinya di bumi. Dengan keimanan yang jujur, Bilal dimuliakan oleh orang-orang shalih di dunia, diangkat derajatnya oleh Allah di akhirat.

Jauh-jauh hari, beliau pernah bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi.)

Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.

Ath Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.

Sedangkan Al Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.

Namun jika kita mampu bersabar dalam menjalankan syariat Islam di tengah keterasingan, maka Allah telah menjanjikan nikmat tak terhingga dengan firman-Nya, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Maka, selagi masih di ladang amal, mari kita kokohkan kaki; berdiri mempertahankan syariat Islam, meski di tengah keterasingan. Letihkanlah punggung kita untuk beribadah kepada-Nya, hingga kelak Allah memberikan kita tempat istirahat nyaman di Jannah-Nya. Amin…

About ZulkifliMA

Check Also

Mengambil Harta Suami Tanpa Seizinnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *