Home / Akhlak / Sanjungan Yang Menghanyutkan

Sanjungan Yang Menghanyutkan

Imam Ats-Tsauri menuturkan, “Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindarilah sifat senang disanjung orang.” Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain.

Jika muncul keinginan dan harapan mendapat pujian dari orang lain, maka ingatlah selalu sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dan dalam suatu riwayat disebutkan, “Orang yang memujinya akan berbalik mencelanya.”

Ats-Tsauri berkata: Dalam kategori ini, engkau menginginkan mereka memuliakanmu dan senang jika engkau mendapat kehormatan dan kedudukan di hati mereka. Menurut hemat saya korban panah macam ini banyak sekali tapi mereka bermacam-macam bentuknya, yang sebagian tidak begitu tampak karena sebagian orang memahami pujian hanya dari satu sisi saja dan melupakan sisi yang lain, di antaranya juga ada yang datang dari sisi senang dipuji oleh orang lain lewat perkataan. Dan banyak orang ingin membaca kehebatan gaya bahasa orang yang memujinya samapi-sampai ada yang menunjukkan bahwa pujian-pujian itu adalah memang bukti nyata keadaan orang yang dipujinya, seolah-olah dia mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang laki-laki yang berdiri di depan Musailamah Al-kadzab yang mengaku-aku sebagai nabi. Musailamah berkata kepadanya, “Aku lebih tahu apa yang ada dalam hatimu!”

Orang itu berkata balik kepadanya, “Aku juga tahu apa yang ada di dalam hatimu!”

“Apa itu!” sergah Musailamah.

Orang itu menjawab: “Demi Allah, aku tahu sebenarnya engkau menyadari bahwa sesungguh-nya aku mengetahui engkau adalah seorang pendusta!”

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang menyederhanakan bahasa dan tutur katanya. Jangan sampai lisannya menjadi batu sandungan bagi dirinya, sebab dosa yang dituai lisan pada umumnya dari hal semacam ini. Seandainya orang yang senang dipuji selalu ingat (bahaya yang timbul dibalik pujian), niscaya ia menyadari bahwa dialah yang paling mengetahui akan kelemahan dirinya sendirinya. Namun manusia itu selalu lupa, mudah terpedaya dan suka berpaling dari nasihat orang lain yang mengajarkan kepadanya etika pergaulan dan nilai-nilai agama.

Sekiranya kesadaran itu belum juga tumbuh, maka simaklah penuturan Al-Fudhail bin ‘Iyadh yang telah meletakkan kaidah untuk mengetahui kadar diri, beliau berkata, “Di antara tanda-tanda orang munafik adalah senang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, benci celaan atas kejelekan yang ada pada dirinya, dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangan-nya.”

Seorang ulama salaf bernama Khalid bin Shafwan rahimahullah banyak menyelidiki psikologis bani Adam, ia berkata: “Berapa banyak orang yang terpedaya dengan sitrullah (tirai Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menutupi kesalahan manusia) dan tergoda dengan sanjungan orang. Maka jangan sampai kejahilan orang yang menyanjungmu menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan kita termasuk golongan mereka. “

Jenis pujian lainnya adalah memuji diri sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Ini termasuk rekomendasi terhadap diri sendiri. Sebagian orang sengaja memuji diri sendiri di hadapan orang banyak. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:, “Janganlah kamu menganggap diri kamu suci.” (An-Najm: 32)

Dan perbuatan tadi termasuk menganggap suci diri sendiri. Rabbah Al-Qaisi pernah ditanya, “Apakah yang dapat merusak amalan seseorang?” Beliau menjawab, “Sanjungan orang dan lupa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi nikmat”

Yang tidak kalah aneh adalah sikap sebagian orang mencela kanan kiri seolah-olah bertindak sebagai wasit (penengah). Padahal sebenarnya ia tidak menengahinya. Ia tidak menasihati orang itu karena takut akan membakar kemarahannya, dan tidak pula memujinya karena khawatir akan ditentang orang banyak. Tetapi ia menyebut kekurangan orang lain. Sebenarnya perbuatannya itu adalah pujian atas dirinya sendiri. Dan ia pun sebenarnya tidak menyebutkan penyimpangan yang ada pada saudaranya itu, namun ia cela si Umar sebagai orang yang lugu, si Zaid sebagai pemalas dan lain sebagainya. Dengan itu jiwanya pun menjadi puas dan senang. Realita seperti ini sangat cocok dengan ucapan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “Sesungguhnya di antara ciri-ciri orang munafik adalah senang jika mendengar aib saudaranya.”

Oleh sebab itu, apabila kaum salaf mendengar aib salah seorang saudaranya dibeberkan di hadapannya, ia akan marah. Ia akan lihat terlebih dahulu apakah hal itu memang benar atau tidak! Dan kadangkala mereka menegur orang yang membeberkan dan menyuruhnya untuk menyebutkan langsung hal itu kepada yang bersangkutan.

Betapa bahagia orang yang dapat menjaga diri dari panah-panah setan tersebut. Selalu mengoreksi diri dan menyadari kekurangan dirinya. Lalu menyadari bahwa seberapapun banyak amal yang dikerjakannya, tetap kecil dibandingkan dengan kewajiban bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat yang telah tercurah kepadanya. Hendaklah selalu kita ingat salah satu dari tujuh orang yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu seorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan seperti orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuk beramal shalih, yang tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang saja. Manfaat amalnya dapat dirasakan segenap kaum muslimin, namun mereka tidak mengetahui orang yang melakukannya.

Dalam hadits dikisahkan tentang seorang lelaki yang berkata: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata, “Orang kaya telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya.”

Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam kedua dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pencuri telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya dan seorang pencuri.”

Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pelacur. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pelacur telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya, seorang pencuri dan pelacur.”

Kemudian ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun berkata: “Semoga orang kaya itu dapat memetik pelajaran hingga bersedia mengeluarkan kewajiban zakatnya, semoga si pencuri itu dapat menjaga kehormatan dirinya dengan harta itu, dan semoga si pelacur dapat menjaga kehormatan dirinya dengan harta itu hingga dapat meninggal-kan perbuatan zina.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dari hadits itu dapat kita ketahui bahwa para sahabat lebih suka bila hubungan antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diketahui orang banyak. Mereka tidak suka orang lain mengetahui apa yang mereka amalkan. Mudrik bin ‘Aun Al-Ahmas berkata: “Ketika aku berada di sisi Umar radhiyallahu ‘anhu, datanglah utusan An-Nu’man. Umar radhiyallahu ‘anhu pun menanyakannya tentang keadaan pasukan. Utusan itu menyebutkan orang-orang yang terluka dan terbunuh di Nahawand, ia berkata: “Si Fulan bin Fulan, Fulan bin Fulan dan lain-lain yang tidak engkau kenal. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui mereka.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Akan tetapi Dzat Yang telah mengkaruniakan mereka syahadah (mati syahid) mengetahui wajah dan nasab mereka.”

Dalam kisah yang lain disebutkan ketika Maslamah bin Abdul Malik kesulitan merebut sebuah benteng yang tengah dikepungnya. Benteng itu sangat kokoh sehingga sulit ditaklukkan. Maslamah berkata kepada pasukannya: “Siapakah yang berani masuk menerobos lewat jendela itu (ternyata pada benteng itu ada sebuah jendela), untuk membuka pintu benteng dari dalam?”

Maka majulah seorang yang bertutup muka, ia segera menerobos jendela itu dan membuka pintu benteng dari dalam. Begitu pintu terbuka pasukan kaum muslimin segera menyerbu masuk ke dalam benteng, dan terja-dilah pertempuran yang sengit. Akhirnya pasukan kaum muslimin dapat menaklukkan musuh. Selesai peperangan, Maslamah duduk-duduk bersama segenap pasukannya. Ia berkata: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun segenap pasukan diam membisu! Maslamah berseru sekali lagi: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun mereka masih saja diam. Akhirnya Maslamah berkata: “Demi Allah, wahai orang yang bertutup muka, silakan datang menemuiku siang atau malam hari!”

Pada malam harinya tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan tenda Maslamah, Maslamah bertanya: “Apakah engkau orang yang bertutup muka itu?” Orang itu menjawab: “Orang yang bertutup muka itu membuat beberapa persyaratan kepada kalian.” “Apa itu?” tanya Maslamah. “Ia mensyaratkan agar kalian tidak bertanya tentang namanya dan nama ayahnya, dan kalian jangan memberinya hadiah serta jangan laporkan namanya kepada khalifah” jawab orang itu. “Kami penuhi syarat-syaratnya!” balas Maslamah. Orang itu berkata: “Akulah orang yang bertutup muka itu!”

Maka, marilah kita saling berintropeksi diri. Jika terbersit keinginan mendapat pujian dan sanjungan karena telah berbuat baik dengan seseorang, maka segera pangkas habis dan kubur dalam-dalam harapan itu. Jangan sampai hal itu justru menjadi bumerang bagi kita; menghancurkan amalan yang telah kita kerjakan. wallahu a’lam.

About ZulkifliMA

Check Also

Bangga Menjadi Ummat Muhammad SAW #2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *