Madrasah Al-Huffazh

logo-madrasah-alhuffazh

أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ : ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُىْلُ زَمَانٍ
“Wahai saudaraku… ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yanglama.” (Imam Asy-Syafi’i)

Mulazamah sudah dikenal sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Secara harfiah, mulazamah bisa diartikan menetapi dan tidak meninggalkan. Istilah ini kemudian dialamatkan pada metode pendidikan non-formal, dimana para santri menetapi dan tinggal bersama gurunya dalam rangka mempelajari suatu ilmu. Metode belajar mulazamah ini menjadi idola para penuntut ilmu generasi awal umat ini.

Sejarah mencatat, bahwa beberapa orang sahabat selalu berusaha menyertai Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak kesempatan. Salah satu tujuannya adalah supaya mereka dapat mengais ilmu sebanyak mungkin dari beliau. Apalagi, ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tak hanya terangkum dalam lisan beliau, tapi juga mengalir dalam perilaku dan perbuatan dalam keseharian beliau. Dalam catatan sejarah, ribuan orang tersohor yang diakui kepakarannya dalam berbagai disiplin ilmu dan menjadi sumber rujukan, adalah sebagian dari mereka yang melalui metode pembelajaran ini. Mulai dari keempat khulafah rasyidin, hingga shahabat yang akhirnya berpencar di segenap pelosok bumi yang lain.

‘Ibnu Mas’ud yang faqih dalam ilmu tafsir pada akhirnya memilih Khuffah sebagai tempat tinggalnya dan ladang pahala baginya melalui transfer ilmu dalam ta’lim-ta’limnya. Dari halaqah Ibn Mas’ud ini lahir sejumlah ‘ulama besar seperti Al Qamah, Al Azwad ibn Yazid, Ibrahim An Nakhai, dan Asy Syabi. Sementara itu, di Makkah, Ibnu ‘Abbas adalah salah satu masyayikh yang juga menyelenggarakan ta’lim. Dari halaqah Ibnu ‘Abbas, lahir sejumlah ‘ulama yang pakar dalam bidang tafsir semisal Mujahid, Ikrimah, Atho’ ibn Abi Rabah, dan Said ibn Jubair.Sebagi contoh adalah Imam Syafi’i yang semula bermulazamah pada Muslim ibn Khalid az-Zanji, lalu mengambil hadits pada Imam Malik di Madinah, kemudian berpindah ke Mekkah dan bermulazamah kepada Sufyan bin Uyainah, seorang ahli hadits di Makkah.

Beberapa ‘ulama kontemporer yang juga menjalani metode mulazamah ini diantaranya dalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani, Syaikh Abdul Aziz ibn abdullah ibn Baz.

Dahulu masa kejayaan Islam, Islam terkenal dengan metode pendidikannya yaitu “metode Mulazamah”. Namun zaman sekarang saat dimana kaum baratlah yang mendominasi dunia, dan pendidikan pun berkiblat kepadanya. S.E berarti sarjana ekonomi/ahli ekonomi, S.H berarti sarjana hukum/ahli hukum, atau S.s.n berarti sarjana seni/ahli seni dll. Sistem yang mengatakan kalau kita belajar/berkuliah di jurusan ekonomi maka apabila kita lulus, studi telah tertempuh maka kita akan keluar sebagai ahli ekonomi tidak mungkin sebagai ahli geografi atau sebagai ahli ekonomi juga ahli geografi sekaligus. Saat ini kita tidak lagi menemukan seorang yang memiliki gelar “Polymath”.

Polymath adalah seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang. Hal ini berbeda sekali bila dibandingkan dengan keadaan saat Islamlah yang mendominasi dunia.

Sangatlah mudah menemukan ahli geografi, fisika, matematika, bahasa, agama, filsafat, perang, astronomi, musik, arsitektur, desain, dll yang kemampuan itu semua terdapat dalam satu orang saja, wow..!. Fakta sejarah menyebutkan Ibnu firnas, Ibnu sina, AL-Farabi, Al-Fatih, Al-Kindi, Al-Ghazali, Abu Nawas, Ali Bin Abi Thalib, Ibnu Khaldun, dan banyak lagi. Encer di fikir, bijak dilisan, taat dalam ibadah, namun tangguh dalam perang. Bagaimana mungkin mereka melakukan itu ? memang terlihat mustahil memang, namun itu terbukti ada ketika Islam itu tegak karena sesungguhnya Ilmu Allah itu saling berkaitan. Di antara kelebihan mulazamah dibandingkan sistem lainnya dalam pembelajaran ilmu syar’I adalah karena dalam metode mulazamah setiap disiplin ilmu dipelajari secara tuntas dan terperinci, sebelum beralih ke disiplin ilmu yang lain. Dengan demikian, perhatian para santri bisa fokus untuk menguasai setiap disiplin ilmu syar’i yang dipelajarinya secara mendalam, luas, dan tuntas.