Home / Ibadah / KETIKA DAKWAH DAN AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DITINGGALKAN

KETIKA DAKWAH DAN AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DITINGGALKAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.At-Taubah : 71)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mengatakan : Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaknya ia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu pula, maka dengan hatinya. Dan, itu adalah iman yang paling lemah.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia pernah mengatakan, “Kami berbaiat kepada Rasulullah untuk mendengar dan taat, dalam keadaan sempit maupun lapang, suka rela ataupun terpaksa, dan dengan resiko yang kami tanggung sendiri. Juga, agar kami tidak merebut urusan (kepemimpinan) dari pemegangnya, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, dimana kalian mendapatkan hujjah dari Allah. Dan, agar kami mengatakan kebenaran di manapun kami berada, serta kami tidak boleh takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.”

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan hadits yang terdapat dalam Shahihul Jami’, no.1974, dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mengatakan, “Wahai umat manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’ (Al-Maidah :  105). Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‘Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang zhalim,namun mereka tidak mencegahnya, dikhawatirkan Allah segera menimpakan hukuman dari sisi-Nya kepada mereka semua’.”

Dalam riwayat Nasa’I, redaksinya adalah :

“Sesungguhnya manusia atau kaum jika melihat kemunkaran, namun mereka tidak merubahnya, maka Allah akan menimpakan hukuman kepada mereka semua.”

Jadi, wanita wajib menjadi dai di rumah dan masyarakatnya. Ia bertugas melaksanakan kewajiban menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar di antara kaum wanita. Betapa banyak wanita dan gadis yang menjadi fasilitator bagi para wanita kaumnya, sehingga mereka mendapat petunjuk, yang sebelumnya tidak memiliki komitmen terhadap perintah-perintah Allah, seperti mengenakan hijab, menunaikan shalat, dan berbagai kewajiban lainnya. Sebab wanita diperintahkan agar menunaikan kewajiban berdakwah sesuai firman Allah subhanahu wa ta’ala melalui lisan Nabi-Nya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik’” (Yusuf : 108)

Orang yang mengikuti Nabi mencakup pula kaum wanita. Akan tetapi, mereka harus memperhatikan bahwa dakwah itu harus memperhatikan bahwa dakwah itu harus didasari ilmu dan hujjah yang nyata. Biasanya, wanita itu lebih mudah merespon ajakan sesamanya, karena masing-masing lebih bisa memahami perasaan dan naluri rekannya. Dengan demikian, penerimaan terhadap dakwahnya menjadi sangat terbuka lebar.

About ZulkifliMA

Check Also

Mengambil Harta Suami Tanpa Seizinnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *