Home / Ibadah / Haji Bagi Yang Belum Mampu

Haji Bagi Yang Belum Mampu

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. قال الشيخ الألباني : حسن

Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengerjakan shalat Shubuh di masjid dengan berjamaah, lalu dia duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah.” Rasulullah SAW manambahkan, “Sempurna, sempurna, sempurna.” Abu Isa berkata, “Ini hadits hasan gharib.” Syaikh Al-Albani berkomentar, “Hadis hasan.”

At-Thibi mengatakan, “Shalat tersebut dilakukan setelah matahari meninggi setinggi tombak; keluar dari waktu makruh (setelah shalat subuh sampai terbit matahari). Adapun shalat tersebut dinamakan dengan shalat isyraq, karena waktunya pada permulaan waktu dhuha.”

حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : ” مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الْغَدَاةِ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ اِنْقَلَبَ بِأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمَرَةٍ ” ، أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ

Dari Abu Umamah berkata, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh di masjid dengan berjama’ah, lalu dia tetap diam di sana sampai terbit matahari kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabrani.

Al Mundziri mengatakan di dalam kitab At-Targhib, “Sanadnya jayyid.” Selain itu juga ada hadits lain dari Utaibah bin Abd yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ ثَبَتَ حَتَّى يُسَبِّحَ لِلَّهِ سُبْحَةَ الضُّحَى كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ تَامًّا لَهُ حَجَّةٌ وَعُمَرَةٌ

“Barang siapa yang mengerjakan shalat subuh berjamaah, kemudian berdiam diri hingga mengerjakan shalat dhuha, maka baginya pahala orang yang berhaji dan umrah secara sempurna.”

َعنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ قَعَدَ فِى مُصَلاَّهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. قال الشيخ الألباني : صحيح

Adalah Jabir bin Abdullah berkata, “Bahwasannya apabila Nabi SAW mengerjakan shalat subuh, beliau duduk di tempat shalatnya sampai terbit matahari.” Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih. Sementara Al-Albani menshahihkan hasits ini.

Adapun penetapan penamaan shalat yang dikerjakan pada waktu shalat Dhuha sebagai shalat Isyraq diperoleh dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu Abbas tidak shalat Dhuha. Dia bercerita: Lalu aku membawanya menemui Ummu Hani’ dan kukatakan, “Beritahukan kepadanya apa yang telah engkau beritahukan kepdaku.”

Lalu Ummu Hani berkata, “Rasulullah SAW pernah masuk ke rumahku untuk menemuiku pada hari pembebasan kota Mekkah, lalu beliau minta dibawakan air. Beliau pun menuangkan air itu ke dalam mangkuk besar, lalu minta dibawakan selembar kain. Selanjutnya beliau memasangnya sebagai tabir antara diriku dan beliau. Beliau mandi, lalu menyiramkan air ke sudut rumah. Baru kemudian beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, yang saat itu adalah waktu Dhuha. Lamanya beliau berdiri, ruku, sujud, dan duduknya adalah sama, yang saling berdekatan sebagian dengan sebagian yang lainnya.” Kemudian Ibnu Abbas keluar seraya berkata, “Aku pernah membaca di antara dua papan, aku tidak pernah mengenal shalat Dhuha kecuali sekarang.”

(يسبحن بالعشى و الإشراق)

“Artinya : Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi”

Kemudian aku bertanya, “Mana shalat Isyraq?” Dan setelah itu dia berkata, “Itulah shalat Isyraq.”

Jadi, shalat isyraq ialah shalat dhuha, yang dilakukan pada awal waktu dhuha.

Lalu, bagaimana bagi orang yang melaksanakan shalat shubuh di rumah? Atau di tempat lain; selain masjid? Apakah dia bisa mendapatkan keistimeaan seperti itu?

Terkait masalah ini, Syaikh Ibn Bazz menjawab, “Amal ini memiliki banyak keutamaan dan pahala yang besar. Namun teks hadis yang ada, menunjukkan orang yang tinggal di rumah tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang duduk di tempat shalatnya di masjid. Tetapi jika orang itu shalat subuh di rumah karena sakit atau karena takut, kemudian duduk di tempat shalatnya sambil berdzikir dan membaca Al-Quran sampai matahari meninggi kemudian shalat dua rakaat, maka orang ini mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadis. Karena orang ini memiliki udzur untuk shalat di rumahnya. Demikian pula wanita. Jika seorang wanita shalat subuh (di rumahnya) kemudian duduk berdzikir di tempat shalat di dalam rumahnya sampai terbit matahari maka dia juga mendapat pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadis…” Wallahu a’lam bish shawab.

About ZulkifliMA

Check Also

Bangga Menjadi Ummat Muhammad SAW #2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *