Home / Salafush Shalih / Atha’ bin Abi Rabbah; Ahli Manasik Haji

Atha’ bin Abi Rabbah; Ahli Manasik Haji

Salamah bin Kuhail berkata, “Tiada aku melihat seorangpun yang lebih mengharapkan wajah Allah dengan ilmunya melainkan tiga orang yaitu Atha’, Thawus, dan Mujahid.”

Atha dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin Affan, yaitu pada tahun 27 hijriyah. Nama asli beliau adalah Aslam. Kunyahnya adalah Abu Muhammad Al-Makki. Dahulu ia merupakan seorang budak dari keluarga Abi Hutsaim. Ayahnya dikenal dengan Abu Rabah Aswadan, dan ibunya bernama Barokah. Ia dilahirkan di sebuah desa di negeri Yaman yang bernama Al-Janad. Atha wafat pada tahun 114 H.

Atha’ adalah seorang yang berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berbibir tebal. Semasa di Mekah ia menjadi budak dari seorang wanita yang bernama Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim. Tatkala sang tuan melihat budaknya ini mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu dan berkhidmat kepada agama Allah, maka ia pun berinisiatif untuk membebaskannya dan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bebaslah Atha dari belenggu perbudakan yang membatasi gerak-geriknya dalam meraih keutamaan di jalan Allah. Ia menjadi orang yang merdeka dan hanya menjadi budak Allah Ta’ala, Dzat yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini.

Setelah merdeka, Atha’ tidak menyia-nyiakan umurnya. Ia mencurahkan segenap jiwa dan raganya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari-harinya ia isi dengan menuntut ilmu agama. Ia mulai mereguk segarnya warisan nabawi dari para sahabat-sahabat utama seperti Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan selain mereka dari para pembesar sahabat rahimahumullah. Dadanya penuh terisi dengan ilmu dan hikmah serta fiqh dan adab.

Atha menjual dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semua waktunya telah diperuntukkan demi menuntut ilmu, hingga ia mencapai derajat yang tinggi dengan kemuliaan ilmunya tersebut.

Yahya bin Sa’id mengatakan, “Bagi Atha, masjid adalah tempat tinggalnya selama dua puluh tahun. Ia adalah orang yang paling bagus salatnya.”

Ibnu Juraij mengatakan: “Lantai masjid menjadi kasurnya selama dua puluh tahun, dan ia adalah orang yang paling bagus salatnya”. Ibnu Juraij melanjutkan komentarnya, “Sungguh aku bersamanya tiga belas tahun. Di masa tuanya saja dimana fisiknya telah melemah, ia shalat dengan membaca dua ratus ayat dari Surat Al-Baqarah dalam keadaan kokoh berdiri.”

Ad-Daruquthni mengatakan “Atha pernah berkata, ‘Aku telah bertemu dan belajar kepada lebih dari dua ratus sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Suatu ketika Ibnu Umar datang ke Mekah lalu orang-orang pun datang mengitarinya untuk meminta fatwa, maka Ibnu Umar mengatakan, “Kalian mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku padahal di sisi kalian ada Atha bin Abi Rabah?!”

Perkataan yang senada pun diucapkan oleh Ibnu Abbas, tatkala ada seseorang yang diutus untuk mengajukan pertanyaan kepadanya, lalu sepupu nabi ini menjawab, “Wahai penduduk Mekah, kalian berkumpul dan meminta fatwa kepadaku padahal di tengah-tengah kalian ada Atha bin Abi Robah.”

Abu Ja’far Al-Baqir mengatakan “Bertanyalah kalian kepada Atha, dia itu orang yang paling baik di antara kita.” Ia juga menuturkan, “Ambillah (ilmu) dari Atha semampu kalian, karena tidaklah tersisa di muka bumi ini seorang yang lebih mengetahui tentang manasik haji selain Atha.”

Atha’ mencapai puncak derajat dalam hal agama dan ilmu karena dua hal:
Yang pertama, beliau mampu mengendalikan jiwanya sehingga tidak memberikan peluang untuk sibuk dalam urusan yang tidak berguana baginya.
Yang ke dua, beliau mampu mengatur waktunya sehingga tidak membuangnya sia-sia, seperti mengobrol maupun perbuatan tak berguna lainnya.

Di antara orang yang mengambil ilmu dari beliau adalah : Mujahid bin Jabar, Abu Ishaq as-sabi’i, Abu zubair, Aamru bin Dinar, Zuhri, Qatadah, Amru bin Syua’ib, Malik bin Dinar, Al-A’masy, Yahya bin Abi Katsir, Salamah bin Kuhail, Al-qudama’, Usamah bin Zaid al laitsi, Ismail bin Muslim al-makki, Thalhah bin Amru al makki, Abdulah bin Abdurrahman bin Abi Husain, Abdullah bin Abi Najih, Al-auza’i, Ibnu Juraij, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Para khalifah telah meminta kesediaan beliau untuk menjadi pendamping mereka, namun beliau tidak mengabulkannya. karena beliau takut agamanya ternoda oleh dunianya. Namun demikain terkadang beliau mengunjungi khalifah jika beliau merasa hal itu dapat mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin maupun kebaikan bagi islam.

Atha’ di karuniai umur panjang hingga mencapai delapan puluh tahunan. Beliau penuhi umurnya dengan ilmu dan amal, beliau isi dengan kebaikan dan takwa, beliau sucikan dirinya dengan zuhud terhadap apa yang di miliki manusia, dan mengharap apa yang ada di sisi Allah.

Begitu ajal menjemput, alangkah ringan beban dunia yang di pundaknya. Karena kebanyakan bekalnya adalah amal untuk akhirat. Dia membawa pahala 70 kali haji dan 70 kali wukuf di arafah. Beliau memohon kepada Allah ta’ala keridhaan dan jannah-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dan kemurkaan-Nya dari siksa neraka.

Atha’ bin Abi Rabbah wafat pada tahun 114 hijriyah pada umur sekitar 87 tahun.

About ZulkifliMA

Check Also

AYAH AJARILAH KAMI ADAB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *