iman_uzma

Agar Iman Selamat dari FITNAH DUHAIMA’

Ketika fitnah Duhaima’ menampar seluruh umat Islam, sungguh tiada tempat mencari perlindungan selain kepada Allah Ta’ala. Hanya Allah-lah yang mampu membentengi keimanan kaum muslimin dari goncangan badai fitnah iman itu.

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali Imran [3] : 8)

“Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku agar senantiasa berada di atas dien-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Saat berlangsungnya fitnah Duhaima’, kebutuhan paling utama bagi setiap muslim ialah istiqomah di atas iman dan islam. Inilah kebutuhan paling penting dari pada kebutuhan pokok makan, minum, pakaian, ataupun kebutuhan tempat tinggal. Jika hanya kebutuhan makan dan minum yang tidak terpenuhi, konsekuensinya adalah matinya jasad. Sedangkan setiap orang memang pasti akan mati jasadnya, dan kematian jasad ini tak akan membawa akibat yang panjang di akhirat kelak.

Namun jika kebutuhan akan istiqomah yang tidak terpenuhi, sehingga hati tak mampu lagi menerima keimanan, maka yang terjadi adalah kematian hati. Jika sebuah hati telah mati, fisik hanya akan menjadi sebuah kuburan bagi ruhani belaka. Layaknya sebuah mayat berjalan. Memiliki fisik, tapi tak berhati. Ketika hati telah mati, manusia akan memasuki fase kehidupan bangsa hewan, yang obsesinya hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, dan nafsu birahi belaka. Bagi mereka, hidupnya hanyalah untuk nafsu kantong, perut, dan bawah perut. Jika sudah begitu, tidakkah nilai seorang manusia akan meluntur? Tergantikan oleh nilai-nilai kesetanan dan kebinatangan? Bahkan Allah telah berfirman yang artinya, “Mereka itu binatang ternak, bahkan lebih sesat (hina) lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7] : 179)

Manusia yang hidup seperti binatang adalah manusia-manusia yang hatinya lalai dari agama dan petunjuk yang Allah. Itulah ciri khas hidupnya orang-orang yang terkena fitnah Duhaima’, bahwa menjual iman dengan secuil kenikmatan duniawi menurut mereka bukanlah sebuah perkara yang besar. Ya, inilah yang membuat mereka rela menukar keimanan, ketika waktu pagi masih beriman, namun di waktu sore telah menjadi kafir. Na’udzubillaah!

Mempertahankan keimanan merupakan suatu hal yang amat sulit. Jual-beli keimanan telah menjadi perkara yang biasa. Jangankan berusaha meningkatkan iman, teman yang dulu membersamai saja telah hilang. Mempertahankan keimanan sama seperti melawan arus mayoritas masyarakat. Layaknya melawan arus air, berusaha untuk tidak tenggelam atau terseret arus, maka kita harus berpegangan dengan sebuah tiang yang kokoh dan kuat. Dan tiang itu adalah do’a dan dzikir.

Mengapa harus do’a dan dzikir? Karena hati manusia mudah terbolak-balik sesuai kehendak dan hikmah-Nya. Hati layaknya sehelai bulu yang diombang-ambingkan oleh angin. Sementara keimanan adalah sebuah permata berharga yang tersimpan di dalam hati. Karena hati senantiasa berubah dan tidak stabil, maka keimanan pun rentan mengalami perubahan. Dibutuhkan penjagaan dan perawatan yang ekstra. Salah satunya adalah meneguhkan keimanan, dengan cara mengilmui dan istiqomah dalam mengamalkan kebenaran. Karena iman adalah sebuah karunia yang amat besar sebagai perwujudan kasih saying Allah kepada hamba-Nya.

Pada saat berlangsung fitnah Duhaima’, keimanan dan petunjuk ini berada dalam ‘ancaman’ besar. Orang yang gagal mempertahankannya bahkan rela menjualnya dengan harga yang sangat murah. Dan orang yang sedikit beruntung, akan mengalami penurunan iman sampai kadar tertentu. Dan yang lebih sedikit lagi bahkan teramat sedikit, ialah orang yang mampu meningkatkan kualitas keimanannya. Semoga Allah jadikan kita termasuk orang yang teramat sedikit tersebut. Aamiin.

Salah satu cara terbaik menjaga hubungan dengan Pencipta kita adalah dengan do’a dan dzikir. Karena Dia-lah yang menguasai hati manusia. Dengan terpanjatnya do’a dan dzikir tersebut, akan ada perasaan awas diri dan waspada (muraqabah). Ia akan menjaga hatinya dengan ketat, agar tidak mudah tercemari oleh virus-virus yang mampu menyerang keimanan. Ia tak akan rela menjual imannya dengan hal duniawi, setelah memohon kepada-Nya, “Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk”.

Dengan adanya rasa tak rela tersebut, ia akan terus berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dan melawan arus. Walau godaan untuk berbalik arah dan mengikuti arus sudah sedemikian besarnya. Karena baginya, rahmat Allah ialah yang paling utama adalah istiqamah di atas keimanan, setelah sebelumnya dikaruniai keimanan dan petunjuk. Dengan kesadaran yang seperti inilah, do’a dan dzikir yang ia panjatkan akan membuahkan hasil sebagaimana pengharapannya. -#-

About ZulkifliMA

Pria kelahiran Pariaman, 15 Nopember 1974 M yang akrab disapa dengan panggilan Ustadz Zul ini memiliki nama lengkap Zulkifli Muhammad Ali. Pemilik situs Zulkiflima.com ini menyelesaikan program pendidikan tingkat kuliahnya di Al-Azhar, Mesir, kemudian melanjutkan studynya di Tripoli, Libiya. Beliau aktif di pengkaderan generasi muda peka ilmu, guna mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Selengkapnya tengang beliau, bisa dibaca di sini.

Check Also

2-2

Bangga Menjadi Ummat Muhammad SAW #2

bangga-menjadi-umat-nabi

Bangga Menjadi Ummat Muhammad SAW #1

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *