otak

Abu Hurairah Pemilik Ingatan Tajam

Ingatan Tajam Yang Tak Lekang Oleh Zaman

Hari ini siapa yang tidak kenal dengan nama Abu Hurairah. Hampir setiap hadits yang dibacakan ada kata “dari Abu Hurairah”. Nama beliau merupakan nama yang paling sering berseliweran di telinga setiap harinya. Mengundang decak kagum kawan dan menggentarkan hati lawan. Dengan wasilah beliau lah hari ini kita masih meniti sunnah yang kita ketahui dari hadits-hadits yang diriwayatkan.
Beliaulah pemegang gelar sahabat yang paling banyak hafalan haditsnya. Melejit di atas Anas bin Malik yang memiliki kedekatan hubungan dengan Nabi karena bibinya merupakan salah satu istri Rasulullah. Hafalannya juga jauh meninggalkan Ibnu Umar. Sahabat yang dikenal paling teliti meniti setiap jengkal sunnah yang pernah dikerjakan Rasulullah. Bahkan hafalannya jauh lebih kompleks dan lebih banyak dibandingkan Ummul Mukminin Aisyah, selaku istri Rasulullah yang paling sering menghabiskan waktu bersamanya.

Kadang hal-hal seperti inilah yang menggelitik naluri kita untuk mengetahui lebih dalam lagi. Sebenarnya seperti apa Abu Hurairah itu?. Sehingga mampu mengalahkan para sahabat senior yang jauh lebih dahulu masuk Islam.

Sebelum beliau masuk Islam, ia memiliki nama akrab Abdusy Syamsy. Hamba matahari. Kala cahaya Islam mulai menyeruak hingga setiap sudut kota, Abdusy Syams menyatakan kesiapan dirinya untuk bergabung. Tanpa ada paksaan, apalagi karena bayaran. Murni karena kesadaran dan pilihan terbaik yang dipilihnya. Karena beliau amat memahami arti pilihan. Bahwa hidup ini penuh dengan pilihan dan kita harus memilihnya serta bertanggung jawab terhadap pilihan yang dipilih tersebut.

Seperti teori ABCD yang berbicara masalah pilihan yang ada. Dalam teori itu dikatakan, bahwa semua yang ada di muka bumi, di atas langit dan yang ada di antara keduanya ada karena diciptakan oleh Allah (A). Dan kehidupan para manusia di bumi ini dimulai dengan adanya kelahiran (Birth : B). Semua makhluk yang hidup akan berakhir dan tutup usia dengan adanya kematian (Death : D). Yang menarik, di atara huruf B yang mewakili Birth atau kelahiran dan D yang mewakili Death atau kematian terselip huruf C. C adalah choise atau pilihan. Semenjak lahir hingga liang lahad, kehidupan kita memang dipenuhi dengan berbagai macam pilihan yang harus diambil. Dan tentunya juga harus berani bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil.

Saat Abdusy Syamsy masuk Islam pun, itu merupakan pilihan bijak yang diambilnya. Beliau masuk Islam pada tahun 7 H melalui perantara Thufail bin Amr Ad-Dausi pada umur 26 tahun. Umur yang masih amat muda. Namun di saat yang sama kebersamaan beliau dengan Rasulullah tentu tidak akan lama. Karena pada waktu itu usia Rasulullah sudah senja.

Setelah keislamannya, Rasulullah mengganti nama Abdusy Syamsy dengan nama yang lebih baik: Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi. Namun nama yang mencuat dan akrab di telinga bukan nama hijrah beliau. Melainkan nama kunyahnya: Abu Hurairah. beliau dipanggil dengan Abu Hurairah karena beliau memiliki seekor kucing dan amat sayang kepada kucingnya. Rajin dalam perawatan dan pemeliharaan, bahkan ke mana pun beliau pergi, seakan kucing tersebut tidak pernah lepas dari pengawasannya. Karna itu lah, beliau dijuluki dengan Abu Hurairah, atau Orang yang mencintai kucing seperti Ayah mencintai anaknya.

Beliau sadar, bahwa beliau masuk Islamnya tertinggal jauh dari kawan-kawannya yang telah masuk Islam lebih dahulu. Sehingga kawan-kawannya sudah memiliki sepesialisasi di bidangnya masing-masing. Jika mengambil jalan yang sudah diambil para sahabat yang sudah jauh lebih dahulu masuk Islam tentu beliau akan kerepotan dalam mengejarnya. Dan yang pasti, tetap terseok-seok untuk sekedar menyamai. Apalagi melebihi kualitas mereka jika beliau di jalan yang sama.

Beliau akhirnya mencari jalan yang berbeda. Bukan di bidang semangat perang seperti Ali bin Abi Thalib. Juga bukan di bidang taktik perang seperti Khalid bin Walid. Dan bukan pula di bidang ilmu waris seperti Zaid bin Tsabit. Beliau mengambil jalan yang belum diambil secara all out oleh sahabat sebelumnya. Dengan memanfaatkan kekuatan hafalan yang dimilikinya, beliau selalu menyertai Rasulullah ke mana pun beliau pergi. Mendengarkan setiap untaian kata yang diucapkan dan menghafalkannya. Hingga akhirnya beliau sukses di jalan yang diambilnya meski waktu beliau bersama Nabi semasa hidupnya terbilang amat sebentar. Dan sejarah mencatat bahwa Abu Hurairah adalah penghafal hadits terbanyak di kalangan para sahabat Rasulullah.

Suatu hari Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah dan satu sahabat lain sedang berdoa di dalam masjid. Tiba-tiba Rasulullah datang dan berkata kepada mereka, “Sebutkanlah harapan yang kalian labuhkan lewat do’a kalian barusan”. Mendengar Rasulullah memerintahkan mengucapkan ulang do’a yang dilabuhkan, mereka pun bersegera menyampaikan hajatnya karena mereka yakin Rasulullah akan mengaminkan do’a mereka. Seketika Zaid bin Tsabit dan salah satu sahabat yang bersama mereka malabuhkan do’a dan Rasulullah pun langsung mengaminkan do’a yang mereka panjatkan kepada Allah. Berikutnya Abu Hurairah pun melantunkan do’a, “Ya Allah, hamba mohon kepada-Mu apa yang diminta kedua sahabat hamba ini juga engkau berikan padaku. Dan hamba mohon kepadaMu ilmu yang senantiasa lekat dan tidak lekang oleh masa.” Rasulullah pun mengamini doa Abu Hurairah tersebut.

Mendengar do’a yang dilabuhkan Abu Hurairah, kedua sahabat yang telah diaminkan do’anya oleh Rasulullah pun mengiba, “Ya Rasulullah, kami juga memohon kepada Allah ilmu yang tak lekang oleh masa.” Rasulullah menenggapi permintaan mereka, “Kalian telah didahului oleh putra bani Dausy (Abu Hurairah).”

Semenjak itulah ingatan Abu Hurairah selalu dalam keadaan prima. Ia tidak pernah melupakan satu hal pun yang pernah didengarnya. Setiap kata yang melintas lewat telinganya selalu terpatri dalam. Senantiasa kuat dalam ingatan dan tak lekang oleh zaman meski tiap bertambah hari usianya semakin senja. Hingga otak beliau bagaikan gudang perbendaharaan tanpa batas.

Abu Hurairah bukanlah berasal dari keluarga bangsawan atau darah biru yang memiliki harta melimpah. Beliau merupakan salah satu sahabat yang masa kecilnya hidup seadanya. Terlebih sang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga telah tiada di masa hijaunya Abu Hurairah. Sehingga semenjak usia dini, beliau sudah terbiasa dengan keterbatasan hidup. Maka tidak heran bila suatu ketika beliau merasa kesusahan dalam hidup, beliau hanya memendam dalam diam. Tidak menceritakan keluh kesahnya kepada manusia, apalagi hingga mengeluh.

Hingga suatu hari beliau pernah merasakan lapar yang amat sangat. Beliau pun akhirnya duduk di tepi jalan yang biasa dilewati oleh para sahabat. Tidak lama berselang, lewatlah Abu Bakar di jalan tersebut. Abu Hurairah pun bertanya kepada Abu Bakar tentang salah satu ayat al-Qur’an. Salah satu harapannya supaya Abu Bakar mengajaknya pulang ke rumah. Namun angin tak selamanya sesuai dengan harapan nelayan. Abu Bakar hanya menjawab pertanyaan itu tanpa tahu apa yang tersirat di balik yang tersurat, lantas kemudian balik kanan dan melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa saat, lewatlah Umar bin Khattab. Abu Hurairah pun menanyakan hal yang sama dengan harapan yang sama. Namun tanpa disangka, harapan itu pun bertepuk sebelah tangan. Umar hanya melihat yang dhohir tanpa tahu apa yang tersembunyi dibalik pertanyaan Abu Hurairah.

Langit tak selamanya gelap. Akan ada fajar yang menyingsing mengusir pekatnya malam. Meski kadang kita belum tahu, seberapa lama lagi fajar itu datang menyapa. Pun demikian dengan Abu Hurairah. Di saat-saat yang mengundang rasa gundah, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya. Saat beliau mencari sumber suara, rasa kaget mendahului kesadarannya. Rasulullah lah yang memanggil namanya, dan kemudian mengajak Abu Hurairah ke rumah sembari berkata, “Wahai Abu Hurairah, ikutlah denganku. Di rumah ada semangkok susu.”

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Rasa senang membuncah memenuhi rongga dada. Mendapatkan minuman terbaik dari manusia terbaik di jagat raya. Saat perjalanan ke rumah Rasulullah, beliau meminta Abu Hurairah untuk mengajak para Ahlu Sufah untuk turut serta menikmati rejeki yang ada. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Saat suka maupun duka dihadapi bersama. Bukan bersama saat duka, namun lupa saudara kala mendapati hal yang disuka.

Meski Abu Hurairah memiliki ketajaman hafalan dan kuatnya menjaga hafalan, namun masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Beliau merasa kurang tenang dan selalu was-was bilamana ibunda tercintanya meninggal dunia sementara belum memeluk Islam. Dengan wajah mengiba, beliau menemui Rasulullah dan menceritakan unek-uneknya. Dari hati kecil yang paling dalam, beliau meminta Rasulullah untuk mendo’akan ibunda tercintanya supaya mendapatkan hidayah dan meninggalkan kekafirannya. Rasulullah pun mendo’akan apa yang diminta oleh Abu Hurairah. Dan Allah pun mengabulkan apa yang diminta oleh Abu Hurairah. Sehingga ibundanya pun berada pada kapal yang sama dengannya. Meninggalkan kegelapan dan beralih ke agama Islam.

Di masa khalifah Marwan bin Hakam, Abu Hurairah dipanggil untuk menghadap sang khalifah. Khalifah Marwan bermaksud menguji hafalan Abu Hurairah. Saat itu sang khalifah meminta Abu Hurairah untuk membacakan hadits di depannya. Tanpa disadari oleh Abu Hurariah, ternyata sang khalifah telah meminta seseorang untuk mencatat setiap hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Selang beberapa masa, sang khalifah pun memanggilnya lagi dan meminta Abu Hurairah untuk menyampaikan ulang hadits yang pernah disampaikannya dahulu. Dan Abu Hurairah pun menyampaikan kembali apa yang sudah pernah disampaikannya tanpa ada yang tertinggal satu pun.

Tahun 59 hijriyah menjadi tahun kelabu bagi kaum Muslimin. Salah satu putra terbaiknya: Abu Hurairah menghembuskan nafas terakhirnya setelah ia banyak bertualang menyebarkan hadits yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah. Beliau meninggal di kota Madinah dan dimakamkan di pekuburan Baqi’. Beliau tutup usia pada umur 78 tahun. Meski secara jasad beliau telah tiada, namun apa yang diajarkannya selalu hidup di dada kaum Muslimin. Senantiasa tumbuh dan berkembang, mewangi di setiap zaman. Tak lekang oleh waktu meski jarum jam telah lelah berputar.

About ZulkifliMA

Pria kelahiran Pariaman, 15 Nopember 1974 M yang akrab disapa dengan panggilan Ustadz Zul ini memiliki nama lengkap Zulkifli Muhammad Ali. Pemilik situs Zulkiflima.com ini menyelesaikan program pendidikan tingkat kuliahnya di Al-Azhar, Mesir, kemudian melanjutkan studynya di Tripoli, Libiya. Beliau aktif di pengkaderan generasi muda peka ilmu, guna mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Selengkapnya tengang beliau, bisa dibaca di sini.

Check Also

ahli ilmu

Abdullah bin Abbas; Muda Usianya Luas Ilmunya

Nama Ibnu Abbas sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Nama yang hampir tiap hari …

Aisyah

Aisyah Binti Abu Bakar; Kiblatnya Wanita Shalihah Perindu Jannah

Di lembaran ini kita akan mengenal lebih dekat seorang wanita yang kesucianya di umumkan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *