Home / Shahabat Rasulullah / Abdullah bin Umar; Paling Teliti Dalam Meneladani Rasulullah

Abdullah bin Umar; Paling Teliti Dalam Meneladani Rasulullah

Kaum Muslimin mana yang tak kenal dengan Abdullah bin Umar bin Khattab. Nama yang menggema di jagad sejarah Islam. Banyak sekali keistimewaan yang beliau miliki dan memikat generasi setelahnya. Ilmunya sangat luas, rendah hati, teguh dalam pendirian, dermawan, tekun dalam beribadah dan bersungguh-sungguh dalam meneladani maestro Islam: Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Semua keistimewaan ini melekat pada dirinya. Keinginan kuatnya menapaki setiap yang dilakukan Rasulullah, secara tidak langsung menempa dan membentuk kepribadian menjadi pribadi yang istimewa dan luar biasa.
Abdullah bin Umar bin Khaththab bin Nufail berasal dari bani ‘Adiy yang merupakan salah satu suku, dari suku-suku Quraisy. Nasabnya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad di buyut ke delapan dari jalur bapaknya. Ia terlahir di Makkah, tidak berselang lama setelah Nabi diutus. Putra Umar bin Khattab satu ini adalah saudara kandung Sayiyidah Hafshah, Ummul Mukminin yang terlahir dari rahim ibunda Zainab binti Madz’un.

Abdullah bin Umar dikenal sebagai orang yang paling teliti dalam meniti setiap sunnah Rasulullah. Tidak berhenti dalam masalah ibadah semata, bahkan setiap jengkal tanah yang pernah ditapaki oleh Rasulullah pun ingin beliau tapaki dengan cara Rasulullah menapaki. Pernah suatu hari saat ia dan para sahabatnya melakukan perjalanan dan melewati suatu tempat, Ibnu Umar berperilaku “aneh”. Beliau memutar ontanya di tempat tersebut dua kali putaran, kemudian beliau turun dan melaksanakan sholat dua rakaat. Para sahabat yang bersamanya heran dan menanyakan perilaku “aneh” di mata mereka. Maka Abdullah bin Umar pun menjelaskan, bahwa beliau pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah dan melewati tempat tersebut, tiba-tiba unta yang dikendarai oleh Rasulullah berputar-putar dua kali bukan atas perintah beliau. Selang beberapa saat, Rasulullah pun turun lalu melaksanakan shalat dua rakaat.

Ketelitian beliau dalam menapaki sunnah Rasaulullah ini membuat kagum Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Beliau pernah memuji Ibnu Umar, ”Tidak ada seorang sahabat pun, yang cara mengikuti sunah Rasulullah melebihi cara Ibnu Umar.”

Perhatiannya yang mendalam terhadap setiap perilaku Rasulullah menjadikannya sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Tidaklah satu hadits pun yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya melainkan sudah benar-benar beliau mantapkan hafalannya. Tidak sekedar kesamaan maksudnya yang disampaikan. Bahkan setiap lafalnya pun beliau samakan sebagaimana Nabi mengucapkan. Hingga ada beberapa hadits yang Rasulullah sampaikan dengan gerak intonasi tubuh pun, beliau tirukan kala membawakan hadits tersebut.

Karena ketelitian dan kehati-hatiannya dalam menyampaikan hadits Rasulullah, para sahabat yang hidup sezaman dengannya berkata, ”Tidak ada seorang pun dari para shahabat Nabi yang lebih berhati-hati dalam menyampaikan hadits, tidak mau menambahi atau mengurangi sedikit pun yang melebihi Ibnu Umar.”

Yang lebih menarik lagi, beliau lebih suka menghindari ijtihadnya sendiri dalam berfatwa, karena takut salah. Meski sebenarnya beliau faham betul bahwa seorang mujtahid yang memiliki kafaah ijtihad akan mendapatkan satu pahala jika hasil ijtihadnya salah. Dan akan mendapat pahala ganda bila benar dalam mengambil ijtihad. Namun keshalihan dan kehati-hatiannya memilih untuk tidak berfatwa dengan ijtihadnya sendiri, meski beliau adalah shahabat yang memiliki kafaah untuk berijtihad.

Selain menghindari berfatwa dengan hasil ijtihadnya sendiri, beliu juga selalu menghindar dari jabatan sebagai hakim. Bukan karena mencela status hakim yang menjunjung tinggi syari’at Islam dan berhukum dengan hukum Islam. Namun yang melandasi ketidak mauan beliau, karena Ibnu Umar faham betul bahwa menjadi seorang hakim memiliki tanggung jawab yang berat di hadapan Allah kelak.

Pernah suatu hari beliau dipanggil oleh Khalifah Utsman ? diminta untuk menjadi hakim agung. Namun Ibnu Umar menolak permintaan khalifah. Khalifah terus memintanya, namun lagi-lagi beliau tetap menolak. Lalu Utsman pun bertanya, “Apakah engkau tidak mau menerima perintahku?”

Abdullah bin Umar pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, demi Allah bukan itu maksudku. Hanya saja yang kutahu, hakim itu ada tiga macam: hakim yang memutuskan perkara tidak di dasari ilmu, maka dia akan masuk neraka. Hakim yang memutuskan perkara semaunya saja, maka dia juga akan dimasukkan neraka. Dan yang ke-tiga hakim yang memutuskan perkara dengan ijtihadnya dan hasil ijtihadnya tepat, maka ia tidak mendapat apa-apa; tidak berdosa juga tidak mendapat pahala (karena ia bukan mujtahid mutlak). Demi Allah, sungguh aku meminta kepadamu, agar aku dijauhkan dari jabatan ini.”

Khalifah menerima keberatan itu setelah mendapat jaminan bahwa Ibnu Umar tidak akan menyampaikan alasan itu kepada para sahabat lainnya. Karena Khalifah menyadari sepenuhnya kedudukan Ibnu Umar dalam hati masyarakat. Karena jika orang-orang yang bertakwa lagi shalih mengetahui alasan keberatan Ibnu Umar menerima jabatan tersebut, tentu tidak akan pernah ditemukan orang-orang bertaqwa dan shalih yang bersedia menjadi qadhi atau hakim nantinya.

Abdullah bin Umar juga memiliki hati yang peka dan perasa. Saat mendengar ayat-ayat yang berkaitan dengan adzab maka hanya hitungan detik maka akan ada mata air yang menetes dari kelopak matanya. Beliau sangat faham dengan makna ayat yang dibaca karena beliau menimba langsung dari sumbernya langsung.

Ubaid bin Umair berkata, “pada suatu ketika saya membaca ayat berikut ini kepada Abdullah bin umar:

“Betapakah bila Kami hadapkan dari setiap umat seorang saksi, dan kami hadapkan pula kamu sebagai saksi atas mereka semua. Pada hari itu orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul berharap kiranya mereka ditelan bumi, dan tiada pula suatu pembicaraan pun yang dapat mereka sembunyikan dari Allah.” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 41-42)

Maka Ibnu Umar pun menagis, hingga janggutnya basah oleh air mata.”

Pernah juga suatu ketika saat beliau duduk di antara sahabat-sahabatnya, lalu membaca, “Maka celakalah orang orang yang berlaku curang dalam takaran!yakni orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi, tetapi mengurangkanya bila mereka yang menakar atau menimbang untuk orang lain. Tidaklah mereka merasa bahwa mereka akan dibangkitkan nanti menghadapi suatu hari yang dahsyat.yaitu ketika manusia sama berdiri di hadapan Rabbul alamin .” (Q.S. Al-Muthaffifin :1-6)

Beliau terus saja mengulang-ulang ayat:

“Ketika manusia sama berdiri di hadapan Robbul alamin”

Sedangkan air mata beliau terus menerus mengucur bagai aliran mata air, hingga akhirnya beliau terjatuh disebabkan rasa takut dan banyak menangis.

Nampaknya sifat rendah hati, zuhud dan waro’ bekerja sama pada dirinya dalam suatu paduan seni yang agung, membentuk corak kepribadian yang mengagungkan pada sahabat Rasulullah yang satu ini. Umur kehidupan beliau di dunia terbilang lama. Beliau wafat pada tahun 73 H. Dalam salah satu riwayat, dikatakan umur beliau ketika wafat pada umur 91 tahun. Namun ada juga yang mengatakan 93 tahun. Dalam Tarikh al-baghdadi, karya Ahmad bin Ali Abu Bakar al-Khotib al-Baghdadi disebutkan bahwa beliau meningalnya di Negri Makkah dan di pekuburan Muhajirin di daerah Dzi Tuwa.

Dunia Islam berduka dengan kematiannya. Salah satu pembawa pelita ilmu telah padam. Namun semangat juang yang telah ditularkannya tak kan padam meski berbilang abad berlalu. Ia selalu hidup di hati-hati kaum Muslimin yang berusaha meniti setiap sunnah Rasulullah. Terlebih, hadits yang diriwayatkan beliau hingga kini selalu mendengung di telinga kita. Karena beliau tidak hanya meriwayatkan satu dua hadits, tapi beliau meriwayatkan 2.630 hadits. Karena beliau adalah periwayat hadits terbanyak setelah Abu Hurairah.

Nampaknya kisah ini bisa kita gunakan sebagai cermin. Melihat diri kita dalam-dalam, dan mengamatinya dari dekat. Sudahkah kita mencoba meresapi setiap ayat yang kita baca? Atau bahkan, kita tidak tahu sama sekali apa makna dari setiap ayat yang terucap? Kalau sudah demikian, lantas bagaimana mungkin air mata akan mengucur? Lebih mengerikan lagi apabila kita diingatkan dengan ayat-ayat Allah yang berupa peringatan atau ancaman, malah kita remehkan. Memandang orang yang memberi nasehat dengan pandangan sinis serta berusaha untuk tidak dekat-dekat dengannya. Alasannya, “Ah bikin telinga pasas aja.”

About ZulkifliMA

Check Also

PENGHAPUS AMAL Bag. 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *