Home / Salafush Shalih / Abdullah bin Mubarak; Mulia Karena Rasa Takutnya Kepada Allah

Abdullah bin Mubarak; Mulia Karena Rasa Takutnya Kepada Allah

Abdullah bin Mubarak bin Wadhih Al-Handzaly At-Tamimy atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Mubarak dilahirkan pada tahun 118 Hijriyah, di sebuah kota wilayah Khurasan bernama Maru. Tepatnya pada masa khalifah Umayyah, Hisyam bin Abdul Malik. Dan wafat pada tahun 181 Hijriyah (797 Masehi), di masa khalifah Abbasiyyah, Harun Ar-Rasyid. Ibnu Mubarak merupakan salah seorang dari pengikut tabiin.

Ibnu Mubarak tumbuh dan berkembang di kota kelahirannya. Saat itu kota Maru merupakan pusatnya ilmu dan ulama. Ia tumbuh dari keluarga Muslim yang taat kepada ajaran Islam. Ayahnya bekerja sebagai penjaga kebun, yang kemudian beralih profesi sebagai pedagang. Masa kecil Ibnu Mubarak ia habiskan dengan mempelajari berbagai ilmu dengan berguru kepada para ulama. Sehingga dasar-dasar ilmu keislaman tertanam kuat dalam dirinya.

Ibnu Mubarak adalah orang yang beruntung bisa merasakan masa-masa kejayaan Dinasti Abbasiyyah. Di zaman itu berkembang pesat berbagai disiplin ilmu, mulai dari Fiqih, Hadist dan Sastra. Tercacat beberapa ulama besar yang hidup saat itu seperti Imam Al Auza’i, Sufyan at Tsauri, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, serta beberapa ulama besar lainnya.

Ibnu Mubarak melakukan perjalanan mencari ilmu keseluruh penjuru jazirah Arab. Yaman, Syam, Hijaz, Bashrah, Kuffah dan Mesir adalah negeri-negeri yang pernah didatanginya. Abu Usamah dalam Tazkiratu-l Huffadz mengatakan, “aku tidak melihat seseorang yang paling giat mencari ilmu keseluruh penjuru negeri selain Ibnu Mubarak.” Dalam riwayat lain disebutkan Ibnu Mubarak mengunjungi kurang lebih seperempat dunia untuk mencari hadist-hadist.

Disebabkan kesungguhannya mencari ilmu dan banyaknya bertemu dengan para ulama, menjadikan Ibnu Mubarak sebagai orang yang berwawasan luas. Ia dikenal sebagai ahli Hadist yang tsiqah, ahli Fiqih dan juga seorang sastrawan. Dari semua disiplin ilmu yang ia kuasai, ilmu hadist-lah yang paling menonjol darinya. Karena pengetahuannya tentang hadist yang mendalam, orang-orang menjulukinya dengan sebutan “dokter”. Kata-katanya yang termasyhur dikalangan ulama hadist yaitu, “sanad bagian dari agama. Kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang akan berbicara semaunya.” Satu waktu ia juga mengatakan, “seorang yang menuntut ilmu tanpa sanad bagaikan naik atap tanpa memakai tangga.” Guru-gurunya dalam bidang hadist tidak terhitung, sebuah riwayat menyebutkan Ibnu Mubarak berguru kepada 800 orang ulama. Sementara itu dalam bidang fiqih ia berguru kepada Sufyan At Tsauri, Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Karya Ibnu Mubarak yang sangat populer adalah kitab Az Zuhd.

Dan yang membuat pribadi agung ini lebih istimewa adalah peranannya di medan jihad. Adalah Ibnu Mubarak semasa hidupnya berkali-kali terlibat dalam peperangan. Ia sering mengajarkan pasukan Islam tentang keberanian dan teknik berperang. Ibnu Mubarak memiliki keyakinan manisnya iman hanya bisa didapat dengan berjihad di jalannya. Maka ketika ia melihat al Fudhail bin ‘Iyyad hanya larut dalam beribadah di mesjid Nabawi, ia mengirim bait-bait puisi yang salah satu baitnya berbunyi:

“Wahai para ahli ibadah di dua tanah suci.
Jika engkau melihat kami,
Niscaya engkau akan  tahu,
Sesungguhnya ibadahmu hanya main-main.”

Ibadah Dan Rasa Takutnya Kepada Allah

Dari Al Qasim bin Muhammad dia berkata, “Kami berada dalam sebuah perjalanan bersama Ibnu Al Mubarak, banyak hal yang aku pikirkan. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat orang ini menjadi mulia dan terkenal seperti sekarang, jika dia shalat maka kami juga shalat, jika dia berpuasa maka kamipun berpuasa, jika dia ikut berperang maka kami pun juga ikut berperang dan jika dia menunaikan haji maka kami pun juga menunaikan ibadah haji?”

Muhammad Al Qasim berkata lagi, kami sedang dalam perjalanan ke Syam, kami makan malam dalam sebuah rumah penginapan yang tidak ada lampu, sebagian dari kami mencari lampu keluar, aku pun diam di tempat. Namun seberkas cahaya lampu tiba-tiba muncul sehingga aku melihat muka dan jenggot Ibnu Al Mubarak basah dengan air mata. Aku berkata dalam hati, dengan inilah dia menjadi orang yang dimulaikan. Dan kemungkinan ketika lampu-lampu sudah dimatikan Ibnu Al Mubarak sibuk mengingat hari kiamat.

Al Marwazi berkata, aku mendengar Abu Abdullah Ahmad Bin Hambal berkata, “Ibnu Al Mubarak tidak diangkat derajatnya oleh Allah kecuali karena dia telah banyak melakukan kebaikan yang tidak diketahui banyak orang.”

Abu Ishaq Ibrahim Bin Al Asy’ats berkata, “Ketika Ibnu Al Mubarak sedang sakit keras, dia terlihat bersedih sehingga seseorang berkata kepadanya, Bagimu tidak ada yang perlu dirisaukan, kenapa kamu bersedih seperti ini?” Al Mubarak menjawab, “Aku telah sakit sedang aku belum ridha dengan keadaanku.”

Abu Ishaq berkata, “Seseorang bertanya kepada Ibnu Al Mubarak, ‘Jika ada dua orang yang satu mempunyai rasa takut kepada Allah dan satunya lagi terbunuh dalam membela agama Allah, siapa yang paling anda senangi dari kedua orang ini?” Dia menjawab, “Yang paling aku senangi adalah orang yang mempunyai rasa takut kepada Allah.”

Abu Ruh pernah berkata, “Ibnu Al Mubarak telah berkata, ‘Sesungguhnya mata ditipu oleh empat perkara, Pertama, oleh dosa yang telah lewat, pandangan mata tidak mengetahui apa yang Allah perbuat sebagai balasan dosa tersebut. Kedua, oleh umur yang telah berlalu, pandangan mata tidak mengetahui bagaimana harus mempertanggungjawabkan dosa yang telah diperbuat selama itu. Ketiga, oleh kemuliaan yang telah diberikan, pandangan mata tidak mengetahui apakah kemuliaan itu adalah tipuan atau tingkatan yang sebenarnya yang telah didapat. Keempat,oleh kesesatan yang menghiasi seseorang, sedangkan dia mengangggapnya sebagai petunjuk. Barang siapa menyeleweng sedikit maka dengan cepat matanya akan membohonginya dan agamanya akan rusak sedang dia tidak menyadarinya.’”

Dari Abdullah bin Ashim Al Harawi, berkata, “Ada seorang kakek datang kepada Ibnu Al Mubarak, ketika dia melihatnya sedang bersandar di atas bantal tinggi dan kasar, kakek itu lalu berkata, ‘Aku ingin berkata sesuatu kepadanya namun aku melihatnya ketakutan sehingga aku menaruh belas kasih kepadanya.’ Lalu Abdullah Bin Al Mubarak berkata, ‘Allah telah berfirman, “katakanlah kepada orang laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya” Allah telah melarang untuk melihat kecantikan perempuan karena bagaimana kalau sampai berzina dengannya? Allah juga berfirman” kecelakaan besar bagi orang-orang curang” dalam ukuran dan timbangan, bagaimana dengan orang-orang yang mengambil harta dengan cara bathil? Dan Allah juga telah berfirman” Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain” dan bagaimana dengan orang-orang yang membunuh orang lain?’ Kakek itu lalu berkata, ‘Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada Al Mubarak, aku tidak melihat ada orang sepertinya dan aku juga tidak akan berkata sesuatu kepadanya.’

About ZulkifliMA

Check Also

Mengambil Harta Suami Tanpa Seizinnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *