Home / Shahabat Rasulullah / Abdullah bin Abbas; Muda Usianya Luas Ilmunya

Abdullah bin Abbas; Muda Usianya Luas Ilmunya

Nama Ibnu Abbas sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Nama yang hampir tiap hari didengungkan oleh para penimba ilmu. Beliau memiliki nama lengkap Abdullah Bin Abbas bin Abdul Muththalib Al-Quraisyi Al-Hasyimi, sepupu Rasulullah. beliau adalah putra dari ibunda Ummu Al-Fadhl, saudari Maimunah binti Al-Harits; isri Rasulullah. Beliau lahir di Asy-Sya’ab, pada tahun ketiga sebelum Rasulullah hijrah.

Di masa kecilnya, Rasulullah pernah membonceng Ibnu Abbas di atas sebuah unta. Lantas Beliau bersabda, “Wahai anak muda, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?” beliau melanjutkan, “Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Peliharalah (dirimu dari larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Apabila kamu meminta bantuan, mintalah kepada Allah. Jika kamu butuh pertolongan, memohonlah kepada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis. Pena-pena telah kering, dan lembaran-lembaran telah ditutup.”

Ibnu Abbas kecil itu termanggu memikirkan untaian kata hikmah yang disampaikan oleh Rasulullah. Ia memusatkan konsentrasi pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia yang paling mulia itu. Di hari itu Ibnu Abbas kecil menerima banyak ilmu serta wawasan baru. Pendidikan aqidah, ilmu, dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.

Hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Juga keakrabannya dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkpribadian luar biasa. Keikhlasannya seluas padang pasir tempatnya tinggal. Keberanian dan gairah jihadnya sepanas sinar matahari gurun. kasihnya seperti oase di tengah sahara.

Sebuah kisah menarik melukiskan bagaimana Ibnu Abbas ingin selalu dekat dengan Rasulullah dan belajar darinya. Suatu ketika benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat malam. Karena besarnya rasa ingin tahunya, beliau sampai-sampai menginap di rumah bibinya: Maimunah binti al-Harits, istri Rasulullah. Sepanjang malam ia berjaga sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Setelah Ibnu Abbas yakin bahwa Rasulullah telah bangun dan hendak melaksanakan sholat malam, beliau bersegera mengambilkan air untuk bekal wudhu Rasulullah. Ditengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.

Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas dan dengan lembut mengelus kepala bocah beliau itu seraya berdo’a, ”Ya Allah, anugrahilah ia pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama-Mu dan ajarilah ia ilmu takwil (tafsir al qur’an).”

Setelah berwudhu Rasulullah kembali masuk kerumah untuk menunaikan shalat malam bersama istrinya. Ibnu Abbas tidak tinggal diam. Beliau pun turut serta menjadi makmum Rasulullah dalam sholat malam itu. Awalnya ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah. Kemudian Rasulullah memegang Ibnu Abbas dan memindahkan posisinya di sebelah kanan beliau. Dari sinilah para ulama’ memunculkan pendapat, jika melaksanakan sholat jama’ah yang terdiri dari dua orang, maka posisi imam ada di sebelah kiri, dan makmum berdiri di sebelah kanan imam.

Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan sosok panutannya. Namun demikian, Ibnu abbas tidak mau terlalu lama berkubang dalam rasa haru. Beliau segera bangkit dari kesedihannya. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh hengkang. Maka ibnu abbas pun mulai melakukan pemburuan terhadap ilmu yang telah beliau wariskan kepada para sahabat-sahabatnya.

Beliau ketuk pintu rumah para sahabat yang ada. Berpindah dari satu pintu dan ke pintu yang lain. Tidak jarang sampai tidur di depan pintu rumah para sahabat, dikarenakan mereka sedang istirahat dan beliau tidak mau mengganggu istirahatnya para sahabat.

“Hibr Al-Ummah” (Tinta umat) adalah sebuah julukan yang pantas diberikan kepada sahabat sekaligus sepupu Rasulullah yang satu ini. Pasalnya di umurnya yang relatif muda ia telah menjadi seorang yang diambil rujukannya dalam berbagai macam masalah. Kedalaman ilmunya bagaikan tinta yang tidak pernah habis. Dan karena kedalamannya dalam masalah pengetahuan al-Qur’an, baik dari makna maupun tafsirnya, sahabat yang lebih akrab dipanggil Ibnu Abbas ini, juga digelari “Turjuman Al-Qur’an” (pakar tafsir Al-Qur’an).

Suatu ketika ada salah seorang yang bertanya kepada Ibnu Abbas, tentang metode yang beliau gunakan sehingga di umur yang masih belia sudah memiliki ilmu yang dalam. Dengan rendah hati, beliau menjawab, “Dengan lisan yang gemar bertanya, hati yang cerdas dan akal yang suka berfikir.”

Bahkan sahabat senior sekelas Umar Bin Al-Khattab pun sering kali meminta pendapat Abdullah Bin Abbas dan mengajaknya untuk bermusyawarah untuk mencari sebuah solusi terhadap masalah-masalah yang problematik. Pernah suatu ketika Umar mengadakan musyawarah yang dihadiri oleh Ibnu Abbas dan para shahabat senior. Lalu Umar bin Khattab melontarkan satu pertanyaan tentang tafsir dari surat An-Nashr. Para tokoh shahabat pun menjawabnya dengan penafsiran yang panjang lebar. Adapun Ibnu Abbas menafsirkannya secara singkat dan amat gamblang, “Surat An-Nashr adalah surat yang mengabarkan tentang dekatnya kematian Rasulullah.” Umar pun membenarkan penafsiran Ibnu Abbas.

Selain dikenal dengan keberanian dan ilmunya yang luas, Ibnu Abbas juga kerap dikenal dengan logika yang memukau dan menakjubkan baik kawan maupun lawan. Hal ini terbukti pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kala itu Ibnu Abbas menawarkan dirinya sebagai utusan untuk berdialog kepada kelompok Khawarij yang menyelisihi Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Abbas bertanya kepada perwakilan Khowarij, “Apakah yang menyebabkan kalian menaruh dendam kepada Ali?”. Mereka menjawab, ”Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami kepadanya. Pertama, Ia menyerahkan keputusan hukum kepada manusia dalam urusan agama Allah, padahal Allah berfirman, ”Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” Kedua, ia berperang, tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir berarti harta mereka halal. Sebaliknya bila mereka orang-orang beriman darah mereka tentunya haram ditumpahkan. Dan yang ketiga, ketika proses tahkim. Ali rela menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Jika ia sudah tidak menjadi Amirul Mukminin, berarti ia menjadi pemimpin bagi orang-orang kafir.”

Perwakilan Khowarij ini cukup cerdas. Dengan alasan serupa yang dia kemukakan, banyak orang yang terbawa arus mengikuti pola pikirnya. Karena kalau dilihat sekilas apa yang disampaikan oleh perwakilan itu benar adanya. Namun Abdullah bin Abbas jauh lebih cerdik. Beliau melihat celah besar kesalahan cara berfikir utusan Khowarij tersebut. Logika mereka yang didasarkan nafsu itu dipatahkan dengan mudah oleh Ibnu Abbas. Beliau menjawab dengan argumentatif, “Mengenai perkataan kalian bahwa ia menyerahkan keputusan hukum kepada manusia dalam urusan agama Allah, apakah ada yang salah ? Allah berfirman, “Wahai orang -orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barang siapa di antara kamu membunuhnya denga sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa ke ka’bah atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa.”
Ibnu Abbas melanjutkan, “Atas nama Allah, jawablah pertanyaanku. Manakah yang lebih penting; menentukan keputusan hukum kepada manusia dalam urusan menjaga darah kaum muslimin, ataukah menyerahkan hukum kepada mereka dalam urusan seekor kelinci yang harganya satu dirham?”

Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan kritis itu. Mereka dibuat seperti patung yang tidak mampu berkata-kata lagi menerima lontaran balik dari Ibnu Abbas. Kemudian ulama umat ini melanjutkan jawabannya, “Tentang ucapan kalian bahwa ia berperang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan. Apakah kalian menghendaki agar ia mengambil Aisyah, istri Rasulullah dan ibu bagi orang-orang beriman itu sebagai tawanan, menjadikannya budak dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan?”

Sanggahan kedua ini membuat wajah orang-orang khowarij semakin pucat pasi. Terlebih wajah utusan Khowarij yang paling mereka anggap berilmu. Berikutnya Ibnu Abbas beralih ke persoalan yang ketiga, “Adapun ucapan kelian bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Mukminin dari dirinya sampai akhir tahkim, dengarlah oleh kalian apa yang dilakukan oleh Rasulullah pada hari Hudaibiyah. Yakni ketika beliau mendiktekan isi surat perjanjian yang beliau adakan dengan orang-orang Quraisy. Beliau berkata kepada penulis perjanjian, ‘Tulislah : Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah.’ Namun, utusan Quraisy menjawab, ‘Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai utusan Allah, tentu kami tidak akan manghalangimu ke Baitullah dan tidak akan memerangimu.’ Bukankah selanjutnya beliau memerintahkan, ‘Tulislah; Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah.’ Hingga kemudian Rasulullah berkata kepada mereka, ‘Demi Allah, aku ini benar-benar utusan Allah meskipun kalian mendustakannya.’ Kalau Rasulullah saja menanggalkan gelarnya, kenapa kalian mempermasalahkan Ali bin Abi Tholib yang sekedar tidak menggunakan gelar Amirul Mukminin?”. Pungkas Ibnu Abbas menjelaskan.

Debat terbuka antara Ibnu Abbas dan kaum Khawarij berlangsung dengan cara yang sungguh menarik dan menakjubkan. Dua puluh ribu orang yang hadir serentak menyatakan kepuasan mereka terhadab keterangan-keterangannya Ibnu Abbas. Dan yang lebih menarik adalah kesiapan mereka untuk kembali pada jalan yang benar dan menarik diri mereka dari permusuhan terhadap Khalifah Ali.

Ibnu abbas mewarnai dunia ini dengan ilmu dan hikmah. Semenjak berusia 10 tahun beliau memilih untuk tinggal di Thaif. Dan beliu tetap menetap di sana hingga akhir hayatnya. Beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di Thaif pada tahun 68 H. Kota Thaif menjadi saksi bisu yang menyaksikan arak-arakan besar saat mengantarkan seorang “Pena Umat” menuju tempat peristirahatan terkahirnya di dunia. Meski beliau telah istirahat untuk selamanya, namun ilmu yang beiau ajarkan tidak pernah istirahat. Tetap hidup dan berkembang. Mencoba menapaki setiap jejak langkah yang pernah dilaluinya hingga kemudian bertemu dengannya di Jannah kelak.

About ZulkifliMA

Check Also

Mengambil Harta Suami Tanpa Seizinnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *